CERITA PENDEK KARYA

Cahaya yang Bersinar

Cerita : Naylatul Musyarrofah

Senja yang masih sama dengan hari-hari kemarin. Sinar jingga menerpa hamparan tanah yang gersang, haus akan setetes air. Tumbuhan melambai-lambai diterpa angin, seakan memanggil rindu datangnya sang hujan, tetapi sang hujan tidak kunjung datang untuk sekadar menyapa alam yang mulai kepanasan. Tumbuhan pun lelah, pohon, bunga, padi, jagung, semua ikut lelah, dan akhirnya tertunduk lesu dan layu. Sepasang mata selalu menatap sendu kearah hamparan tanah yang gersang, segersang kehidupannya. Sebuah gubuk kecil di tengah sawah selalu menjadi teman sepinya, dan teman belajarnya.

“Nak, ayok pulang,” sebuah suara yang lembut membuyarkan lamunannya.

“Iya bu,” segera gadis berumur 17 tahun itu membereskan semua buku-buku yang berserakan di hadapannya, dan bergegas mengikuti langkah ibunya. Setimba air penuh tergenggam di tangan ibunya yang keriput. Rasa iba dan kasihan menjalar di hati gadis itu, mengingat perjuangan sang ibu mengangkut air setiap harinya dari sebuah sumber air yang kecil.

“Ibu, biar Nur saja yang membawa airnya,” tawar gadis itu sambil memohon kepada ibunya.

“Tidak usah nak, ibu masih bisa, bawa saja buku-bukumu, itu lebih berharga daripada setimba air ini Nur.” Nur hanya diam. Nur sangat menyayangi ibunya. Di dunia ini dia hanya memiliki sang ibu dan seorang kakak laki-laki yang bekerja di luar kota. Ayahnya sudah meninggal 10 tahun silam. Sang kakak jarang pulang kerumahnya. Tetesan keringat yang selalu membanjiri wajah sang ibu ketika ibunya baru pulang dari mengumpulkan pundi-pundi rupiah menjadi motivasi paling utama bagi kehidupan Nur. Jadi tidak mengherankan kalau sekarang dia tumbuh menjadi gadis remaja yang berpikiran dewasa, kuat menjalani ujian, serta berprestasi. Sebagai seorang anak yang berbakti, Nur mempunyai harapan tinggi untuk bisa membahagiakan dan membuat bangga ibunya suatu saat nanti.

Debu-debu bertebaran di mana-mana saat angin kemarau menerpanya dengan kasar, membuat beberapa orang memilih memakai masker dan kacamata. Daerah tersebut memang terkenal dengan masalah kekeringan, sulit air bersih dan curah hujannya sangat rendah, sehingga membuat daerah itu selalu panas dan gersang, daerah tersebut terletak di ujung timur kepulauan Indonesia. Tapi, hari ini cuaca yang panas dan buruk itu berubah menjadi musim semi bagi Nur. Debu, polusi, dan panasnya terik matahari tidak akan menghentikan langkahnya. Hari ini Nur akan memberitahukan kepada ibunya kalau dia telah mendapatkan beasiswa di Institut Teknologi Bandung (ITB). Nur segera bergegas pulang kerumahnya. Nur menceritakan keberhasilannya itu pada ibunya.

“Ibu bangga padamu, nak.”

***

Kabut masih menutupi pagi, dinginnya angin pagi, tidak akan menghentikan langkah-langkah yang membawa sejuta mimpi dan harapan. Dengan ditemani ibunya, Nur menyusuri jalan setapak menuju sekolahnya. Ada rasa bahagia dan juga sedih menjalar di seluruh tubuhnya, dia akan menyongsong masa depannya di Bandung, tapi dia harus meninggalkan ibunya dan juga desa yang telah memberikan banyak cerita di hidupnya.

“Selamat tinggal desaku tercinta, aku akan selalu merindukan senjamu, gersangmu, serta anginmu. Aku janji akan kembali lagi kesini suatu saat nanti dengan membawa kebahagian untuk kalian semua. Aku tidak ingin melihat kau gersang lagi, aku hanya ingin  melihat tawa-tawa kebahagian di desa ini.”

***

Sebuah kertas putih tergenggam erat di tangannya. Nur ingin mrmbuka kertas putih itu, tapi ibunya sudah berpesan “Kamu boleh buka kertas itu setelah kamu sukses nak.”

“Ibu, Nur akan selalu mengingat nasehat ibu.” Lambaian ibunya kembali teringat dipikiran Nur saat dia memasuki bus yang akan mengantarkannya ke Bandung. Nur melihat keinginannya untuk sukses sudah di depan mata, dia harus bisa mencapai mimpi itu, ibunya juga melarang Nur pulang kampung sampai dia lulus kuliah, meskipun berat Nur menyetujui permintaan ibunya. Bus terus meluncur ke arah bandara membawa sejuta harapan untuk para generasi bangsa di dalamnya. Nur tidak berangkat sendirian, tapi juga bersama teman-teman sekolahnya yang memenangkan beasiswa.

“Ridhoi kami ya Allah, untuk mencari ilmu-Mu.”

***

Waktu terus bergulir meninggalkan kenangan dan kisah, menyimpan suka dan duka, meskipun sudah berlalu tapi akan selalu terkenang bersama waktu. Perjuangan memang menyakitkan, tapi aku yakin akan indah pada waktunya.

“Nur, selamat kamu mendapat nilai terbaik di kelasmu.”

“Terima kasih, Dre.” Sebuah senyum yang terus mengembang di wajah Nur. Terus mengiringi proses wisuda di hari istimewa itu, meskipun tidak ditemani anggota keluarga, Nur tetap semangat dan ceria mengikuti jalannya wisuda. Dan hari ini Nur akan pulang kampung, ditemani dengan Andre, sahabatnya selama kuliah. Dia akan membangun desanya dibantu oleh Andre.

***

Di senja hari, sepasang mata tetap menatap sendu ke arah tanah yang gersang, dan tumbuhan yang layu.

“Tidak berubah, sama seperti yang dulu,” ucapnya lirih. Hari ini Nur dan Andre sudah sampai di desa kelahiran Nur.

Sampailah mereka di sebuah rumah sederhana, jantung Nur semakin berdegup kencang saat menatap rumah itu. Sudah 4 tahun lebih dia tidak bertemu dengan ibunya, seperti apa beliau sekarang, Nur sudah lama memendam rasa rindu kepada ibunya. Rumahnya seperti tidak terawat dan kelihatan sangat sepi.

“Assalamualaikum, ibu ini Nur.” Nur mengetuk pintu dan memanggil ibunya. Tapi sepi tidak ada sahutan, senyap, salam Nur seakan ditelan kesepian. Perasaan Nur semakin tidak karuan, Nur langsung mendobrak pintu rumahnya yang terkunci rapat, dia sangat terkejut rumahnya begitu berantakan, debu dimana-mana, seperti tidak terurus selama berbulan-bulan. Nur mencari ibunya ke segala ruangan, tapi nihil sang ibu tidak ada sosoknya, hanya kesepian  yang dia temukan. Nur tidak bisa menahan rasa khawatirnya lagi, dia menangis sejadi-jadinya. Andre menghibur Nur supaya dia tetap tenang. Nur dan Andre lalu mencari tahu ke panduduk sekitar.

“Dasar anak durhaka, ibunya sakit-sakitan malah kau senang-senang di kota. Hai Nur, ibumu sudah meninggal 6 bulan yang lalu. Dasar anak tidak tahu diri!” ucap seorang panduduk, seperti mendapat sambaran petir, Nur langsung terduduk lemas, dia tidak menyangka ibunya sudah meninggalkan dunia ini.

“Ibuuu…” Hatinya begitu perih dan sakit. Dia tidak bisa lagi melihat wajah sang ibu, tidak bisa lagi mendengar nasehatnya.

***

Tidak seperti biasanya senja di hari ini, begitu damai, hijau, dan tidak gersang lagi. Tumbuh-tumbuhan bermekaran di mana-mana, tidak ada lagi tanah tandus dan gersang, semuanya menjadi semakin damai. Tawa-tawa bahagia semakin terdengar, menggema riang di atas udara. Daerah itu sudah berubah, semua penduduk bertanya-tanya siapa malaikat yang telah meneteskan kebahagian-kebahagian itu. Hari ini semua penduduk berkumpul di balai desa, untuk melihat siapakah malaikat berhati mutiara itu. Mereka sangat terkejut saat seorang gadis yang selama ini mereka benci muncul di hadapan mereka semua.

“Nur Amalia. Inilah gadis desa kita, yang telah memberikan titik terang kepada kita semua. Air bersih tidak sulit lagi, pertanian dan perkebunan menjadi lancar berkat kejeniusan dan ketulusan darinya.” Semua orang terharu dan merasa bersalah mendengar sambutan dari kepala desa.

***

“Anakku Nur, yang sangat ibu sayang. Saat kau membuka surat ini, kamu pasti sudah sukses. Ibu memang yakin kau akan menjadi orang sukses, tidak seperti ibu yang hanya menjadi penjual sayur keliling saja. Tapi ibu merasa sukses saat membesarkan kamu menjadi anak yang berpretasi, dan berakhlak baik. Ibu hanya berpesan saat kau sukses jangan lupa dengan salatmu, jangan sombong, dan selalu berbuat baiklah. Ibu khawatir, ibu tidak bisa lagi memberikan nasehat kepadamu, mungkin saat kamu sukses, ibu tidak tahu apakah ibu masih bisa melihat wajahmu, atau ibu sudah kembali kepada-Nya. Jangan kau lupakan pesan ibumu ini nak, tanamkan di dalam jiwamu.”

Share it
HMPS Vektor Tadris IPA IAIN Jember
Berdiri : 05 Mei 2017 HMPS Tadris IPA IAIN JEMBER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *