CERITA PENDEK KARYA

I H S A N

Cerita: Imam S. Arifin

Namaku Ihsan, lengkapnya Ihsan Ali Akbar. Semua orang memanggilku dengan nama itu, Ihsan. Aku terlahir dari keluarga yang sederhana, di kampung yang sederhana, serta di desa yang—bisa dikatakan—jauh dari peradaban dan ketinggalan zaman. Intinya, desaku adalah desa yang tidak mudah terbawa arus “modernisasi”, Lebeng Timur[1] namanya. Meski demikian, masyarakat di desaku ramah-ramah, suka menghargai sesama, tidak seperti orang di kota-kota besar yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Bahkan yang menurutku sangat ironi adalah, kepada tetangganya saja mereka tidak kenal, seakan tidak sadar akan pentingnya bersilaturahmi dengan tetangga. Karena seperti yang sudah acap kali aku dengar, bahwa tak kenal maka tak sayang. Mungkin seperti itu yang terjadi pada mereka, masa bodoh terhadap apa yang terjadi di sekitarnya (tetangga). Masya Allah! Tapi sudah lah, yang penting hal seperti itu tidak terjadi di desa kelahiranku ini.

Senja di desaku kembali berdentang. Semua yang terlihat kembali jingga. Entah itu awan, dinding rumah-rumah warga, dedaunan, dan yang lainnya. Ayam-ayam kampung satu persatu mulai kembali ke peraduannya. Burung-burung sudah hampir ‘tak ada yang terlihat. Para warga sudah berpulangan dari sawah. Jam sudah menunjukkan pukul 17:30 WIB. Gema selawat sudah terdengar dari langgar tempatku menimba ilmu al-Qur’an. Ya, sekarang sudah sudah sampai waktunya untuk aku pergi ke langgar. Belajar mengaji bersama teman-teman di sana.

Aku harus bersiap-siap untuk berangkat, mumpung ibu dan bapak belum datang. Karena kalau sampai saat mereka datang dan melihat aku masih balum siap untuk berangkat, akan kena marah nantinya. Dan biasanya, ibu datang ketika azan maghrib sudah dikumandangkan. Aku harus bersegera. Hari ini aku sedikit lebih lambat dari biasanya. Karena dari tadi aku bantu-bantu Pak Sabri, tetanggaku, yang lagi aghulung bheko[2]. Ya, itulah kebiasaanku setiap hari, selain sekolah tentunya. Kalau tidak bermain, ya bantu-bantu pekerjaan orang tua dan tetangga.

Hari sudah sangat senja tampaknya. Sang bintang penerang bumi sudah sepenuhnya terbenam. Azan maghrib sudah berkumandang dari beberapa penjuru. Aku sudah siap untuk berngkat ke langgar. Tampaknya kedua orang tuaku sudah datang dari tempat kerjanya. Kulihat mereka sedang meletakkan timba di depan rumah. Aku menghampiri mereka untuk pamit.

“Pak, Bu, aku Ihsan berangkat dulu,” ucapku pada mereka. Kulihat raut wajah mareka tampak sangat lesu, mungkin karena capek habis seharian bekerja. Aku mencium tangannya. Ia menolak karena—mungkin—tangannya sedikit kotor. Tapi aku tetap memaksa. Aku harus membiasakan diri mencium tangan kedua orang tua ketika hendak mau berangkat kemana saja. Hingga akhirnya mereka mau tangannya aku cium. Bapak berlalu. Tampaknya beliau mau ke kamar mandi.

“Ihsan, malam ini kamu mau nginap lagi di langgar?” tanya ibu yang saat ini masih duduk di teras rumahku, tepat di hadapanku.

“Ia, kenapa memangnya bu?”

Nggak, nanti malam kamu bantuin Pak Sabri-nya masat[3], ya?”

“Baik bu.”

“Kalau begitu, nanti setelah kamu selesai mengaji langsung pulang, biar tidak kemalaman. Sudah, sana berangkat!”

“Ia bu. Assalamu’alaikum.”

Wa’alaikumsalam.

***

Aku malangkah pelan, melewati jalan setapak di samping rumahku menuju langgar. Awan yang jingga akibat pantulan sinar matahari sudah sirna di ufuk sana. Suara azan sudah berakhir. Hari sudah benar-benar gelap. Hampir aku tidak dapat melihat apa yang ada di sekitar. Warga sudah tidak ada lagi yang berkeliaran. Mereka sudah pada berlabuh di rumahnya masing-masing. Namun tampaknya, malam ini aku memang sedikit kemalaman berangkatnya. Semoga saja ke[4] Dlawi[5] masih belum tiba di langgar sesampainya aku di sana nanti, hingga beliau tidak tahu akan keterlambatanku. Ah, tak apalah, toh aku terlambat bukan karena disengaja.

Deggg… Hatiku mendesis. Jantungku sedikit berdebar. Saat ini, aku sedang memijakkan kaki di jalan setapak dekat area pemakaman. Bulu kudukku merinding, sedikit. Mataku dengan spontan tertuju pada sebuah kuburan yang ada di paling tengah. Konon, menurut cerita warga yang aku dengar, kuburan itu adalah kuburan seorang tukang sihir yang mati dibunuh oleh warga dengan dipeggal kepalanya, setelah diketahui menyihir anak dari salah satu warga desa ini. Dan katanya, arwahnya selalu berkeliaran ketika hari sudah remang, ya seperti saat sekarang ini. Ah, aku jadi semakin merinding saja mengingat hal itu.

Angin sepoy-sepoy seakan menyelimuti sekujur tubuhku, lengkap dengan dinginnya yang menggilkanku. Ya Allah! Kenapa Kau mengingatkanku akan hal itu?! Aku menghentikan langkah, kemudian menoleh ke sekeliling. Tak ada satu pun orang yang terlihat. Lengang. Hanya suara angin dan bunyi jangkrik yang aku dengar. Aku melirik jam di tanganku, sudah menunjukkan pukul 18:10 WIB. Hari semakin gelap. Aku kambali melangkah pelan. Ingin berlari sekencang mungkin agar cepat sampai ke langgar, tapi terasa berat sekali. Aku hanya bisa menggerakkan kakiku dengan pelan. Inikah rasanya ketika seseorang sedang merasakan takut pada makhluk halus yang amat sangat? Sangat berat sekali walau hanya untuk melangkah.

Hingga akhirnya aku ingat akan pesan salah satu guruku, jika aku dalam keadaan tidak tenang dan sulilt untuk mengontrol diri, beliau menyuruhku untuk mengambil nafas dalam-dalam dan dilekuarkan perlahan dengan membaca dua kaliamat syahadat, hal itu diulangi tiga kali. Aku menghentikan langkah, akan coba memeraktekkannya. Aku mulai memejamkan mata, menarik nafas dalam dalam-dalam, lalu mengeluarkannya disertai dua bacaan syahadat itu, Asyhadu Anlaailaaha Illallaah, wa Asyhadu Anna Muhammadan Rasuulullaah. Kuulangi tiga kali sesuai dengan apa yang guruku katakan waktu itu.

Plekkk…

Astaghfirullah… Ada memegang punggungku dari belakang. Detak jantungku semakin kencang, serasa akan copot. Keringatku semakin deras bercucuran. Tubuhku gemetar karena takut. Siapa yang memegang punggungku ini? Siapa yang ada di belakangku sekarang? Huh! Aku tidak bisa membayangkannya. Aku ingin menoleh untuk memastikan. Tapi tidak, aku tidak berani, karena aku takut hal yang tidak aku inginkan terjadi. Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?!

“Ihsan, sedang apa kau di sini?” Seseorang berbicara di belakangku. Kubuka mataku yang sedari tadi ku pejamkan. Jantungku yang dag-dig-dug dari tadi kini mulai agak tenang mendengar suara yang berasal dari belakangku. Suaranya seperti tidak asing di pendengaranku. Aku memberanikan diri untuk menoleh, perlahan, untuk memastikan bahwa siapapun yang berdiri di belakangku bukan yang sama sekali tidak aku harapkan. Semoga saja!

“Ihsan, kau kenapa? Ini aku, Alif.”

Alif. Apakah yang berdiri di depanku benar-benar Alif, teman ngajiku. Aku semakin menoleh ke belakang untuk memastikannya.

“Alif, ternyata kau,  ku kira siapa.”

Alhamdulillah. Hal yang aku takutkan tidak terjadi akhirnya. Ternyata yang tadi memegang punggungku dari belakang memang benar-benar Alif. Tubuhku menjadi tenang seketika. Dag-dig-dug jantungku hilang dengan perlahan. Bulu kulitku yang tadi terbangun kini kembali seperti semula.

“Iya. Kok kamu masih di sini?”

“Aku takut banget Lif. Sangat sulit untuk ku gerakkan tubuh karena rasa takutku. Malam ini aku sedikit kemalaman pergi ke langgar. Kamu mau berangat ke langgar juga?”

“Iya. Ayo kita berangkat.”

Dengan perasaan tenang, kami berangkat menuju langgar yang sudah tidak begitu jauh itu.

***

Malam sudah semakin larut. Suasana di kampung ini sudah sepi, karena memang usai salat isya’ seluruh warga kembali ke rumahnya masing-masing dan sudah tidak ada aktivitas lagi. Kalau tidak nonton TV, ya mereka tidur. Bagi warga desa ini,  malam adalah waktu untuk istirahat dan mengumpulkan tenaga untuk bekerja esok. Berbeda dengan di kota-kota sana. Terkadang malah sebaliknya, begi warga daerah perkotaan, malam kadang mereka jadikan seperti siangnya warga pedesaan.

Pengajian sudah usai. Terlihat ke Dlawi sudah berjalan menuju dalemnya. Aku bergegas menghampiri beliau untuk pamit tidak akan menginap malam ini. Aku berjalan hampir menyerupai kecepatan orang yang berlari, karena takut ke Dlawi sampai masuk ke dalemnya. Akhirnya aku berhasil sowan kepada beliau sebelum masuk. Di hadapan beliau aku menunjukkan ketakzimanku. Karena, beliau adalah orang yang sudah membimbingku dengan sangat tulus untuk bisa mengeja huruf hijaiyah. Jasa-jasa beliau sebagai pahlawan tanpa tanda jasa di negeri ini takkan pernah bisa untuk aku melupakannya. Abadan!

Aku mengutarakan maksudku kepada beliau dengan penuh rasa hormat. Tutur katanya yang sopan dan ramah semakin membuatku terkagum-kagum akan beliau. Ya. Selama aku mengaji di sini, aku tidak pernah melihat beliau berkata kasar kepada murid-muridnya, apalagi sampai marah. Beliau merupakan sosok paling karismatik yang pernah aku temukan.

Sudah agak lama aku sowan kepada beliau. Dan, alhamdulillah, beliau mengizinkan. Kemudian aku undur diri dan mencium asta[6]-nya.

Sebelum pulang, aku harus kembai ke langgar untuk pamit ke teman-temanku. Tapi, sesampainya di sana, suasana sudah sepi, aku tak mendapati satu orang pun di dalam langgar. Pada kemana mereka?! Kok mereka tidak ada di sini?! Ah, sudahlah, aku langsung pulang saja, mungkin saja mereka lagi ada kegiatan yang tidak aku ketahui.

Aku pun pulang. Malam ini sangat gelap sekali. Rembulan pun enggan untuk bersinar. Oh ia, sekarang kan akhir bulan dan sudah hampir memasuki bulan puasa, Sya’ban. Jadi bukan waktunya bagi sang rembulan untuk bersinar terang. Toh meskipun ada, sinarnya akan redup. Itulah sedikit yang aku ketahui tentang rembulan. Dan kata bapak, rembulan akan bersinar terang saat pertengahan, yakni pada malam bulan purnama. Sekarang, purnama sudah lewat beberapa hari kemarin, jadi waktu rembulan bersinar terang sudah lewat. Tapi sudahlah, meski rembulan tidak bersinar terang, aku masih bisa melihat jalan, meski sangat remang.

Sekarang aku sudah ada di jalan tempat kendaraan berlalu lintas. Kalau diukur dengan jarak, sekitar setengah perjalanan lagi aku akan sampai di rumah. Tidak terlalu jauh sih, mungkin kurang lebih 1 kilo meter lagi aku akan sampai.

Kruksak….!!!

Terdengar jelas di telingaku ada sesuatu yang jatuh. Aku menghentikan langkah. Menoleh ke sekeliling untuk memastikan tidak ada apa-apa. Angin malam semakin kencang menggigilkan tubuhku. Bulu kulitku kembali merinding. Aku merasakan sesuatu yang tidak enak. Rasa takut kembali mengelutiku. Ya Allah, kenapa sifatku yang penakut sangat sulit untukku lepaskan?!

Dengan berusaha untuk tenang, aku memejamkan mata menarik nafas dalam-dalam, kemudian aku melepaskan pelan-pelan dengan membaca dua kalimat syahadat. Hal itu aku ulangi tiga kali. Aku kembali melangkah. Pelan. Kreksek…!!! Mendengar suara itu aku kembali berhenti. Seperti ada orang yang berlalu di belakangku. Rasa takutku semakin menjadi-jadi. Aku tak berani menoleh meski hanya untuk mengetahui siapa yang barusan lewat di belakangku. Hingga akhirnya…

Coaaaaarrrr….

Kepalaku basah karena ada yang melemparku dengan air. Kemudian disusul berikutnya hingga tubuhku basah kuyup. Aku berdiri kebingungan. Ketika aku menoleh ke samping, aku sudah dikelilingi oleh teman-teman ngajiku. Ya, mereka adalah teman-teman ngajiku di langgar ke Dlawi. Mereka kembali melemparku dengan air yang kuarasa sepertinya mereka campur dengan tomat. Aku masih bingung apa maksud mereka dengan semua ini.

Happy birthday to you… Happy birthday to you… Happy birthday to you…

Mereka bersama-sama mengucapkannya, suasana yang awalnya sunyi kini menjadi riang seketika. Aku tersenyum semringah sambil menikmati dinginnya tubuhku yang sudah kuyup karena banyaknya air yang sudah dilempar kepadaku dari tadi. Karena, aku baru ingat bahwa hari ini adalah hari ulang tahunku. 17 Juni 2015.

Terima kasih sahabat-sahabatku, kau telah membuatku tersenyum…[]

 

*Istana Pers Jancukers, 5 April 2016.

[1] Sebuah desa terpencil yang terdapat di pulau Madura, kecamatan Pasongsoang, kabupaten Sumenep.

[2] Menggulung daun tembakau untuk di pasat (diiris-iris kecil); bahasa Madura.

[3] Mengiris-iris daun tembakau yang sudah digulung; bahasa Madura.

[4] Panggilan kepada orang-orang yang sudah tua. Namun dalam hal ini adalah panggilan terhadap kiai/tokoh masyarakat.

[5] Guru alif ku. Nama lengkapnya, K. Ahmad Baidlawi, beliau lebih akrab di panggil dengan sebutan ke Dlawi.

[6] Tangan; bahasa Madura.

Share it
HMPS Vektor Tadris IPA IAIN Jember
Berdiri : 05 Mei 2017 HMPS Tadris IPA IAIN JEMBER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *