CERITA PENDEK KARYA

Kovalen Hati

Cerita : Annisa Fikriya

Sinar matahari mulai melewati celah kecil jendela kamarku. Mataku tergelitik oleh sengatan lembut yang membangunkanku dari mimpi tidurku. Tubuhku menggeliat, mengeluarkan asap tak asing dari dua lapis bibirku. Aku bangkit berpindah ruang dengan tingkah laku konyol menggaruk-garuk kepala dengan tangan kanan dan kuraih air minumku dengan tangan kiriku. Bola mataku bergulir keatas dinding dan terbelalak dalam waktu seedetik. Aku berlari layaknya wonderwoman. Tak sampai 5 menit aku sudah keluar rumah memasang sepatu kiriku menuju ke sekolah dengan sepeda gunung. Tergesa-gesa aku mengayuhkan sepeda kaki dengan lincahnya. Hingga pada akhirnya sampai pada gerbang sekolah yang hampir tertutup sekitar 35.

“Pak..!! tunggu sebentar! Teriakku dari kejauhan 10 M. Tiba-tiba brukkk!!!!! Aku menabrak seorang laki-laki berkopyah, wajahnya menempel di aspal yang diam, aku tumbang bersamaan dengannya.

Selama beberapa hari aku bersama dengannya, banyak hal yang aku kagumi darinya, dari suaranya yang menempatkan hatiku pada sebuah ketenangan malam dari bacaan Al-Qur’annya. Subhanallah tak pernah kudengar suara semerdu ini. Sejak itulah aku mulai menaruh hati pada sosok alif yang dapat mengubahku 180 dari tingkah nakalku dan kini aku mulai belajar untuk memantaskan diri untuk dapat bersanding dengan lelaki sholeh dan alim seperti Alif, hehehe…NGAREP.

Pukul 07.00 bel sirine membunyikan suaranya, sudah 30 menit aku didepan kelas menanti kedatangan pangeran surgawi itu, namun tak kunjung muncul, aku mulai cemas dan bertanya-tanya, tiba-tiba salah satu rekan Alif membubarkan lamunanku dengan memberikan sepucuk surat. “hey, nungguin siapa.? Ini ada surat untukmu” kata rekan Alif sambil memukul pundakku dan menyodorkan secarik kertas. “oh iya terimakasih” jawabku sambil tersenyum tipis. Surat itu ternyata dari Alif kubaca dengan rasa penasaran dan penuh tanda tanya, ada apa dengan Alif.? Mengapa dia tidak masuk sekolah.? Tanpa sadar air mataku mengaliri pipiku, ternyata Alif pindah sekolah, ia pindah di sekolah dekat rumahnya karena ayahnya mulai sakit-sakitan, Alif menyelipkan amanat dalam suratnya, ia memintaku untuk tetap istiqomah dalam beribadah dan selalu berakhlakul karimah.

Kini aku menjalani kesaharianku dengan kesendirian bagaikan skalar yang menunggu kau datang membawa arah. Semenjak itu, aku dan Alif tidak pernah bertukar kabar, surat itulah bukti komunikasi terakhir dengan Alif. Sampai pada akhirnya aku dipertemukan lagi dengan Alif di tempat yang tak pernah kusangka-sangka sebelumnya.

Malam itu tepat pukul 19.00 aku dan keluargaku usai melaksanakan sholat isya’ berjamaah, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dan ucapan salam, orang tuaku menyuruhku membuka pintu, kubuka pintu sambil menjawab salam, setelah pintu terbuka, mataku terbelalak, dan mulai berkaca-kaca merasa heran dengan datangnya seorang pria berkopyah yang sudah tak asing lagi dimataku. Saat itu jantungku seakan menabuh drum dengan cepatnya, ketika suaranya mulai keluar, tabuhannya bertambah dua kali lipat, sungguh bahwa kerinduanku ini belum sampai di ujung muara, senyuman manis yang telah lama kurindukan, kini senyuman itu menyapaku lagi. “Alif.? Silahkan masuk” sapaku pada Alif. “iya terimakasih, apakah Ayahmu ada dirumah.?” Tanya Alif. Kenapa Alif mencari Ayahku, kenapa bukan aku.? Apa Alif tidak merindukanku.? Uh.!!! Sungguh menyebalkan. “iya ada, tunggu sebentar” jawabku sambil memasang muka cemberut namun juga banyak pertanyaan yang melintas dipikiranku. Ada apa ini.? Mengapa Alif kerumahku malam-malam.? Apa tujuan Alif datang kerumah.? “Ayah, ada yang ingin bertemu dengan Ayah..” “iya, siapa.?” Tanya Ayah. “Alif Ayah, teman SMAku dulu” jawabku.

Perbincangan Ayah dan Alif sungguh membuat aku penasaran. Apa yang dibicarakan mereka.? Tiba-tiba Ayah memanggilku untuk bergabung di ruang tamu, ayah menjelaskan maksud kedatangan Alif. “apakah kamu bersedia menikah dengan Alif.? Tanya Ayah kepadaku. Aku terkejut mendengar pertanyaan Ayah itu, ternyata maksud kedatangan Alif kerumah untuk meminangku. Aku hanya terdiam sambil menatap wajah Alif yang sedang menunduk, lalu aku menjawab pertanyaan Ayah dengan senyuman dan anggukan.

Jodoh adalah cerminan diri kita seperti yang tercantum dalam Q.S an-Nur ayat 26 “Laki-laki yang baik untuk wanita yang baik, dan wanita yang baik untuk laki-laki yang baik pula. Laki-laki yang tidak baik untuk wanita yang tidak baik, dan wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik pula.

Share it
HMPS Vektor Tadris IPA IAIN Jember
Berdiri : 05 Mei 2017 HMPS Tadris IPA IAIN JEMBER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *