ILMIAH KARYA

Pancaran Islam Nusantara untuk Jiwa Pemuda Indonesia

Oleh: Naylatul Musyarrofah

Historis perjalanan Islam di Indonesia mengalami proses yang panjang dan tidak mudah, banyak cerita dan versi bagaimana Islam mulai berkembang di bangsa ini. Bagaimanapun historisya Islam masuk ke Indonesia, Islam sudah membuktikan kebenaran ajarannya. Sehingga bangsa ini menjadi bangsa yang mayoritas muslim.

Pada pertengahan abad ke-15, ibu kota Campa, Wijaya jatuh ke tangan Vietnam yang datang dari utara. Dalam kenangan historis Jawa, Campa selalu diingat dalam kaitannya dengan Islamisasi. Dari sinilah, Raden Rahmat anak seorang putri Campa dengan seorang Arab, datang ke Majapahit untuk menemui bibinya yang telah kawin dengan Raja Majapahit. Ia kemudian dikenal sebagai Sunan Ampel salah seorang Wali tertua. Sunan Giri yang juga termasuk kalangan para wali, tetapi juga dikenang sebagai penyebar agama Islam di kepulauan Indonesia bagian Timur. Raja Ternate Sultan Zaenal Abidin pergi ke Giri (1495) untuk memperdalam pengetahuan agama. Tak lama setelah kembali ke Ternate, Sultan Zainal Abidin mangkat, tetapi beliau telah menjadikan Ternate sebagai kekuatan Islam. Di bagian lain, Demak telah berhasil mengislamkan Banjarmasin. Mata rantai proses Islamisasi di kepulauan Indonesia masih terus berlangsung. Jaringan kolektif keislaman di kepulauan Indonesia inilah yang mempercepat proses terbentuknya nasionalisme Indonesia.[1]

Islam, “the best religion”, ungkapan tersebut memang tidak akan pernah hilang dari jiwa Islam. Bukti Islam memang agama yang hebat, dan terbaik, sudah kita rasakan pengaruhnya di atas muka bumi ini, terutama di nusantara Indonesia. Agama Islam sudah sangat berpengaruh di Indonesia, kehebatan dan kebenaran ajarannya sudah terpancar di jiwa-jiwa bangsa Indonesia. Pancaran suci Islam sudah membuka hati rakyat Indonesia, yang semula mereka menganut kepercayaan yang sesat, dengan kedatangan Islam di bumi nusantara ini, masyarakat Indonesia mulai mengenal kepercayaan yang benar dan  sesuai dengan ajaran Allah SWT.

Memiliki predikat “bangsa yang mayoritas muslim” merupakan sebuah ujian tersendiri untuk bangsa Indonesia. Kita memang patut bangga dengan predikat tersebut, tapi kita juga harus bertanggung jawab dengan predikat itu. Sebuah tanggung jawab  berat yang harus Indonesia jaga dan jalankan. Sebagai seorang muslim kita harus mengetahui hakikat Islam, iman, dan ihsan.

Islam adalah agama yang dibawa oleh para utusan Allah dan disempurnakan pada masa Rasulullah SAW., yang memiliki sumber ajaran pokok Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Sebagai petunjuk kepada umat manusis sepanjang masa. (Q.S.48:28, dan 5:3). Islam adalah menyembah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun, mendirikan shalat, menunaikan shalat, menunaikan zakat yang difardukan, dan berpuasa di bulan Ramadan. Islam adalah kepatuhan menjalankan perintah Allah dengan segala keikhlasan dan kesungguhan hati. Secara singkat dapat dijelaskan bahwa Islam mengatur segala aspek kehidupan, baik yang berkenaan dengan kepercayaan, ibadah, moral, sosial, ekonomi, kebudayaan, pemerintahan, hubungan internasional serta pandangan dan sikap hidup terhadap alam semesta.[2]

Iman adalah percaya kepada Allah SWT, para malaikatnya, berhadapan dengan Allah, percaya kepada para Rasul-Nya, dan percaya pada hari berbangkit dari kubur. Secara singkat dapat dijelaskan bahwa iman artinya kepercayaan, yang intinya percaya dan mengakui bahwa Allah itu Ada dan Esa, tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya.[3]

Ihsan menurut bahasa adalah berbuat kebaikan. Dalam arti khusus, ihsan sering disamakan dengan akhlak, yaitu sikap atau tingkah laku yang baik menurut Islam. Dan terkadang pula diartikan sebagai suatu kesempurnaan. Adapun ihsan menurut syariat, telah dirumuskan oleh Rasulullah, dalam hadis “menyembah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak mampu melihat-Nya, ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat. Ihsan merupakan salah satu faktor utama dalam menentukan diterima atau tidaknya suatu amal oleh Allah SWT. Karena orang yang berlaku ihsan dapat dipastikan akan ikhlas dalam beramal, sedangkan ikhlas merupakan inti diterimanya suatu amal ibadah.[4]

Islam, iman, dan ihsan, adalah tiga komponen penting yang wajib dimiliki oleh setiap muslim. Ketika komponen tersebut sudah ditanamkan dalam jiwa dan benar-benar diamalkan, maka bangsa ini akan menjadi bangsa Islam sejati. Bukan sekedar menyandang predikat saja, tapi juga dibuktikan dengan fakta kepada dunia.

Ketika kita mau membangun sebuah bangsa yang kuat dan hebat, hal pertama yang harus kita benahi adalah moral dan jiwa-jiwa masyarakat. Tidak bisa dipungkiri kalau bangsa Indonesia saat ini mengalami krisis moral, terutama moral pemudanya.

Pemuda adalah harapan bangsa, sudah seharusnya pemuda-pemuda Indonesia mulai membenahi moral untuk menuju bangsa yang kuat dan hebat, Islam, beriman, dan ihsan.

Mengingat dan mengenang historis perjalanan Islam di Indonesia, menanamkan jiwa Islam, iman, dan ihsan. Hal itulah yang harus diperhatiikan setiap pemuda di Indonesia. Sebagai seorang pemuda Indonesia kita tidak boleh melupakan bagaimana perjuangan Islam masuk di bangsa ini, dengan mengingat sejarah akan tumbuh jiwa-jiwa Islam yang bernasionalisme, yang cintai agama dan bangsanya.

Tantangan pemuda Indonesia di masa depan sangatlah berat dan tidak mudah, karena arus modernisasi dan globalisasi semakin berpengaruh pada kehidupan bangsa Indonesia. Diantaranya tantangan pemuda dalam himpitan modernisasi dan globalisasi: 1. Persaingan semakin ketat, 2. Perkembangan Iptek, 3. Akulturasi budaya, 4. Dekadensi moral, dan 5. Kenakalan remaja. Arus modernisasi dan globalisasi tidak bisa kita hindari, semuanya tergantung pada sikap setiap individu.  Sebagai pemuda Indonesia,  terutama yang beragama Islam hendaknya tidak terbawa arus modernisasi dunia. Pemuda Indonesia bisa mencontoh sikap Rasulullah SAW., beliau adalah teladan bagi umat manusia, bukan hanya dalam hal agama saja, tapi beliau juga sangat memperhatikan ilmu pengetahuan, ilmu bersosial, berpolitik, dll.

Berjiwa Islam, iman, dan ihsan, menyikapi arus modernisasi dan globalisasi dengan tepat dan sesuai dengan ajaran Al-Qur’an dan Sunnah Nabi adalah jalan yang paling benar untuk menuju bangsa yang hebat dari segala sisi, baik agama, sosial, politik, maupun pendidikan.

Islam sudah memberikan banyak perubahan di bangsa ini, perubahan untuk segala aspek-aspek kehidupan nusantara. Islam di nusantara ini sudah membangkitkan semangat para pejuang bangsa, membangkitkan semangat para Wali Songo, dan seharusnya pada zaman modern ini  Islam nusantara bisa membangkitkan semangat para pemuda Indonesia, untuk menuju bangsa the real Islam, iman, dan ihsan, berpengetahuan tinggi sehingga bisa menaklukan dunia tanpa harus meninggalkan ajaran Islam. The best Islamic religion.

[1] Ending saifuddin, modernisasi dan globalisasi, 1990:230-231)

[2] Rachmat syafe’I, Al-Hadis, (bandung :pustaka setia, 2000), hal 18-21

[3] Ibid,

[4] Ibid,

Share it
HMPS Vektor Tadris IPA IAIN Jember
Berdiri : 05 Mei 2017 HMPS Tadris IPA IAIN JEMBER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *