ILMIAH KARYA

Santri Bingkai Sains

Oleh : Naela*

Secara umum santri adalah seseorag yang menetap di sebuah pondok pesantren dan berguru kepada kiai. Tapi secara logika, santri bukan hanya seseorang yang menetap di pondok pesantren. karena sejatinya seseorang bisa dianggap santri ketika mempunyai ilmu agama yang tinggi serta bisa mengaplikasikan kedalam kehidupan nyata. Mengaplikasikan ilmu agama bagi seorang santri adalah suatu tolak ukur mengeksistensi predikat kesantriaannya. Karena ilmu agama adalah pegangan utama seorang santri untuk bekal dunia akhiratnya. Tapi di zaman modern ini, santri bukan hanya dituntut membekali diri dengan ilmu agama. Tapi juga dari segi sains. Seorang santri dituntut harus bisa menguasainya.

Sains adalah suatu usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dan berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Pentingnya sains sebagai modal dalam menghadapi modernitas dan kemajuan teknologi tidak bisa dianggap sepele. Untuk mengangkat eksistensi seorang santri yang dipandang dunia, maka juga dibutuhkan seorang santri memiliki jiwa sains dan berteknologi. Sains bisa juga diartikan sebagai kunci ilmu pengetahuan untuk mendatangkan sebuah ilmu yang lain, untuk kesejahteraan manusia

santri dan sains adalah dua hal yang sebenarnya tidak bisa diversuskan. Santri yang mengerti dan mendalami Al-Qur’an, tidak akan menyepelekan pentingnya sains, karena Al-Qur’an adalah ilmu sains sebenarnya. Sudah banyak dibuktikan, kebenaran Al-Qur’an dalam sains, salah satu contohnya adalah ketika para ilmuwan seperti Nicolus Copernicus, Galileo Galilei, dan Ptolomeus saling menjatuhkan tentang teori yang mereka miliki. Ptolomeus dengan teori Geosentrisnya mengatakan bahwa bumi adalah pusat alam semesta, tapi akhirnya bisa dibntah oleh Nicolaus Copernicus dengan teori Heliosentrisme yang mengatakan bahwa tata surya berpusat di matahari, dan menjadi titik mula fundamental bagi astronomi modern dan sains modern. Sebelum Nicolaus Copernicus menemukan teori Heliosentrisnya, sebenarnya di dalam Al-Qur’an sudah dijelaskan bahwa pusat tata surya adalah matahari, yakni pada surat Asy-Syams ayat 1-7, [1.

Agama dan Al-Qur’an banyak memberikan gambaran yang menganjurkan umat manusia untuk mencintai sains. Santri yang berpegang teguh pada Al-Qur’an tidak akan menyampingkan peran sains dalam nilai-nilai kesantriannya. santri bisa belajar sains dari Al-Qur’an, karena semua refrensi tentang sains ada di dalam Al-Qur’an. Sebagai umat Islam sangat di anjurkan sekali menjadi hamba yang “Khoirunnas Anfaum Linnas”, seorang hamba yang bermamfaat untuk orang lain, sebuah pelajaran moral bagi umat manusia. Salah satu jalan untuk bermamfaat untuk orang lain adalah dengan menguasai sains, karena sains sangat berperan dalam kehidupan manusia. Sains membantu mempermudah kepentingan umat manusia, disinilah peran santri diperlukan untuk berpartisipasi dalam kemajuan sains.

pada tahun 1600 M ditemukan listrik statis dan magnetisme yang akhirnya berdampak pada penemuan alat-alat listrik, dynamo, elektronik modern, penerangan listrik, televise, pengeras suara, dan kompas. Jika penemuan itu tidak terjadi maka bisa dibayangkan saat ini dunia tetap gelap gulita dan kita tidak bisa mengakses informasi, karena lampu dan televisi ada berkat penemuan listrik statis dan magnetisme. Ditemukan teori kuman penyakit pada tahun 1700 M yang akhirnya berdampak pada penemuan pengurangan penyebaran penyakit indeksi, Antibodi, dan penemuan teknik untuk diagnosis penyakit dan terapi target anti kanker. Itulah salah satu contoh dampak kemajuan sains bagi perubahan dunia dan untuk kebaikan manusia.

Dalam kemajuan sains, para penemu atau ilmuwan muslim juga berperan di dalamnya seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, Al-Kindi, Ibnu Khaldun, bahkan mantan presiden Indonesia Bapak Bacharuddin Jusuf Habibie masuk kedalam deretan para ilmuwan yang berpengaruh di dunia. Mereka adalah para fisikawan, kimiawan, astronomi seta geografi dan sains bumi. pemikiran mereka sangat berpengaruh untuk dunia, di masa kejayaan islam para ilmuwan muslim banyak menemukan teori-teori sains, tapi teori-teori itu ada yang musnah ketika umat Islam dikalahkan oleh orang-orang yunani dan yahudi, yang pada akhirnya para pemikir yunani dan yahudi bermunculan dengan teori-teori baru mereka, seperti Aristoteles, Newton, Galileo Galile, Albert Einstein, Niels Bohr, dan John Dalton.

para ilmuwan muslim modern, khususnya yang berasal dari kaum santri dan kiai ada beberapa yang sudah berkecimpung di dalam ilmu sains, seperti matematikawan islam modern, KH.Fahmi Basya, yang membedah keajaiban Al-Qur’an dari sisi keilmuwan matematika. KH.Fahmi Basya adalah seorang dosen metematika Islam di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah di Jakarta. KH.Fahmi Basya melakukan penelitian mengenai Al-Qur’an sejak tahun 1972, hingga akhirnya berhasil merumuska Matematika Islam pada tahun 1982. Hasil karya tulisnya yakni Matematika islam 1, matematika islam 2, matematika Islam 3, Borobudur dan Peninggalan Nabi sulaiman. Dalam penemuannya tersebut KH.Fahmi Basya menemukan angka 19 adalah sebuah aksioma dalam Al-Qur’an dan juga rahasia di balik gerakan shalat menurut perhitungan Matematika.

Dari profil KH.Fahmi Basya, kita bisa mengambil sebuah kesimpulan bahwa seorang santri ataupun kiai yang setiap hari berkecimpung dengan Al-Qur’an tetap bisa menjadi saintis yang hebat, karena di dalam Al-Qur’an sudah terdapat rahasia-rahasia sains yang harus dipikirkan oleh umat manusia. Dari penemuan-penemuan tersebut bisa semakin memperkuat iman kita kepada Allah SWT. Tuhan sudah memerintahkan kepada umat manusia untuk “iqra” yakni membaca. Arti membaca disini adalah mempelajari, merenungkan, dan memahami semua ciptaan Allah SWT.

Semua hal yang diciptakan oleh Allah SWT mengandung banyak pelajaran yang perlu di ungkap dan diteliti untuk bisa menemukan ilmu baru. sains identic dengan sebuah riset, yang bertujuan utuk mengungkap rahasia di balik semua ciptaanya. Tapi, ada beberapa argument yang mengatakan bahwa sebuah riset sering menyebabkan kerusakan di muka bumi ini. Riset yang dilakukan dengan sikap ceroboh dan tidak manusiawi memang bisa menyebabkan sebuah malapetaka dan tidak sesuai dengan norma yang ada, melanggar etika dan agama. Tapi ketika riset diniatkan untuk kesejahteraan manusia dan untuk mempertebal iman kita kepada Allah SWT, maka hal itu akan mendatangkan pahala dan kebaikan untuk seluruh ciptaan-Nya.

Sebagai seorang Santri, memang sudah seharusnya menjadi khalifah yang baik di muka bumi ini. Pengaplikasian nyata yang bisa ditunjukkan adalah dengan melakukan riset yang sesuai dengan norma dan agama. Tidak boleh semena-mena melakukan riset, yang bisa menyebabkan kerusakan dimuka bumi ini. Bertingkah sesuai ajaran Rosulullah SAW dan Al-Qur’an, maka riset pasti akan membawa kebaikan untuk seluruh makhluk hidup. Agama islam adalah agama Rahmatan lilAlamin, sudah seharusnya santri yang telah didik dengan nilai-nilai agama mengamalkan semua perintah agama. Bermamfaat untuk manusia lain, dan menjadi seorang khalifah  yang baik untuk semua makhluk hidup. Jangan menjadi seorang santri yang radikal dan tidak sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW dan juga Al-Qur’an.

Predikat santri yang selama ini dibilang kudet [ketinggalan zaman] akan ilmu-ilmu sains dan teknologi masih melekat di dalam elemen masyarakat. predikat tersebut diberikan oleh masyarakat karena faktanya ketika seorang santri ditanya tentang sains dan teknologi, mereka angkat tangan dan menggelengkan kepala Mememng tidak semua santri kudet [ketinggalan zaman], tapi masyarakat menilai sesuai dengan apa yang ada di lapangan.

Santri Indoesia kebanyakan masih menganggap sains itu rumit, dan tidak ada gunanya mempelajari sains. Seharusnya santri Indonesia bersyukur, sekarang podok pesantren mulai mengerti akan pentingnya sains, banyak program-program yang disusun untuk mendukung perkembangan sains para santrinya. Tidak seperti pada zaman colonial Belanda. Pada saat itu pendidikan Sains oleh pondok-pesantren ditentang dan diboikot karena di cap sebagai barang haram. Karena para Ulama’ dan msyarakat Pondok-pesantren pada waktu itu menganggap pendidikan sains dibawa oleh orang-orang Eropa. Mmbawa akibat-akibat yang kurang menguntungkan bagi para Ulama’dan masyarakatnya sendiri.

Sikap anti sains bagi para santri tidak cocok dijadikan sebuah prinsip, karena pada zaman Globalisasi ini, umat Islam harus bisa bersaing dengan para ilmuwan barat. Sikap anti sains justrul akan menghancurkan umat islam itu sendiri, karena hal itu bisa dijadikan keberuntungan bagi orang-orang barat yang ingin menghancurkan islam. Untuk menghindari hal-hal yang bisa menghancurkan umat Islam dibidang sains, Solusi utamanya adalah dengan mempelajari sains dan mengaplikasikannya di dalam kehidupan sehari-hari, bukan dengan cara yang radikal, yang justrul akan mencemarkan nama baik umat Islam.

banyak hal-hal radikal yang telah dilakukan oleh umat Islam yang tidak mengerti dengan ajaran agama dan Al-Qur’an. Perbuatan mereka seperti menaburkan sampah pada umat Islam lainnya. sudah tidak semestinya hal-hal radikal itu diterapkan, karena zaman peperangan sudah usai. Umat Islam khususnya para santri bisa membuktika kepada dunia. bahwa umat Islam itu tidak radikal tapi bisa membawa rahmat untuk manusia lainnya, yakni dengan jalan sains.

Sikap radikal adalah kekerasan yang tidak akan membawa kebaikan, hanya kekerasan yang tampak. di era Globalisasi dan teknologi hanya satu yang dibutuhkan sekarang yakni, adu kompetensi dibidang sains, adu intelektual, bukan kekerasan. intelektual dalam hal sains salah satu modal utama menghadapi tantangan zaman.

Ea modernitas, Negara-negara di dunia saling bersaing untuk menduduki predikat Negara paling dihormati oleh Negara lain. Negara indonesia, mayoritas rakyatnya adalah muslim, yang dari dulu identic dengan Negara yang ramah dan sopan. Dari segi etika Indonesia memang patut dicungi jempol oleh Negara lain. Tai untuk bidang sains, Indoneia masih dipandang sebelah mata.Kemunduran bidang Sains di Indonesia terjadi karena rakyat Indonesia masih terlalu takut terjun bersaing dengan Negara lain. Merasa minder, dan tidak mampu, padahal semua manusia diciptakan mempunyai akal, tapi yang berbeda yakni pada ikhtiar masing-masing insan. bekerja keras adalah kunci utama mencapai sebuah kesuksesan.

Sudah seharusnya santri Indonesia berikhtiar membawa perubahan untuk Indonesia. Usaha pertama yang bisa dilakukan adalah manata niat, mempelajari sains semata mata untuk mencari ridho-Nya, dengan bermamfaat untuk orang lain. Memang tidak akan secara instan, tapi suatu ikhtiar atau proses tidak akan mengkhianati sebuah hasil. sebuah pencapaian akan sepadan dengan ikhtiar yang telah dilakukan. Menghilangkan mindset takut, dan tidak takut dengan berbagai macam tantangan. Santri selama di pondok telah dilatih bagaimana menghadapi tantangan hidup, mandiri, dan tidak pantang menyerah. Aplikasikan karakter tersebut di kehidupan masyarakat dan dunia, karena ahli dalam ilmu sains diperlukan sikap optimis dan kerja keras yang tinggi.

Peran santri diperlukan dalam kemajuan sains, untuk mengamalkan ilmu-ilmunya di dalam persaingan sains dunia. Berkaca kepada para ilmuwan muslim sebelumnya, bahwa umat islam juga bisa menjadi ahli sains yang dipandang dunia. Menuju suatu perubahan memang tidak segampang membalikkan telapak tangan, setidaknya ada peubahan yang lebih baik kedepannya untuk santri Indonesia dibidang sains. Indonesia berharap, kita tidak hanya selalu menjadi target uji coba sains dan teknologi, tidak hanya menjadi konsumen terbesar di bidang sains dan teknologi. Tapi juga menjadi penghasil sains dan teknologi. Harapan Indonesia terletak pada rakyatnya, harapan yang tertanam untuk para kader-kader islam, yakni para santri Indonesia. Berharap nantinya bisa menjadi para ilmuwan sains yang beretika sesuai ajaran Nabi Muhammad dan Al-Qur’an. Mengangkat kembali nama dan ilmuwan-ilmuwan Islam dikancah sains dunia.

Menanamkan nilai-nilai sains educationdi setiap elemen pendidikan, terutama di pondok pesantren. Diharapkan para kader-kader Islam tersebut tidak hanya ahli dalam segi religiusnya tapi juga dari segi intelektual, khususnya sains. Bekal untuk para penerus bangsa, karena dunia membutuhkan saintis yang beretika santri dan berakal Al-Qur’an. Belajar mencintai sains, meriset, dan menjadi insan-insan yang bermamfaat untuk orang lain, menjadi khalifah yang baik, karena sudah sepatutnya seorang santri memiliki karakter yang baik. Menjadi insan yang saintis tidak perlu radikal dan tidak bermoral, hanya berbekal kemauan pasti ada jalan untuk menuju santri saintis yang agamis.

 

Biografi

             Nama penulis Naelatul musarrofah, mahasiswi IAIN Jember, prodi tadris ipa, lahir 21 tahun yang lalu yakni pada tanggal 14 November.Berasal dari kota tape, Bondowoso.  Paling suka menulis, menggambar, dan mendengarkan musik. Aktif di berbagai organisasi seperti organisasi daerah, jurnalistik, dan HMPS prodi ipa sebagao coordinator dari bidang SDM [sumber daya mahasiswa]. motto hidup. “khoirunnas anfaumlinnas”. jika ingin sharing-sharing bareng penulis hubungi Wa [085755918220], Email [nhaelamusarrofahaz14@gmail.com.] . Thanks.

Share it
HMPS Vektor Tadris IPA IAIN Jember
Berdiri : 05 Mei 2017 HMPS Tadris IPA IAIN JEMBER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *